#SetahunVietnam: Kereta, Kopi, Kita

The journey, not the destination matters… – T. S. Eliot

Bagi sebagian orang, melakukan perjalananan sendirian sama halnya dengan pergi berkawan sepi. Tidak ada kawan bertukar pikiran atau sekedar berkelakar di kala perjalanan terasa masih terlalu panjang. Sayangnya anggapan itu tidak berlaku bagi saya. Melakukan perjalanan seorang diri terasa lebih menyenangkan, epriting dipenon yu, saya tidak perlu banyak berkompromi dan bergantung pada orang lain.

“Je, Vietnam yuk”, ajak Dev lewat WA. “Yuk. Sama siapa aja?” sambut saya yang segera dijawab Dev “Siapa aja yang mau hahaha..”. Ajak kanan-kiri, akhirnya Miya dan Amga bersedia gabung. Wah, Vietnam. Salah satu destinasi impian saya. Akhirnya ada jalan untuk mewujudkan mimpi. Namun saya tidak mau berharap banyak. Perjalanan saya sebelumnya bisa dianggap kurang menyenangkan karena berakhir dengan pertengkaran.

Kereta tak berhenti di Poncol.

Pesawat kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta dan untuk menghemat biaya, kami memilih KA Brantas untuk menuju J Town. Perjalanan menuju stasiun Tawang, lima belas menit jelang keberangkatan kereta ke Jakarta, tiba-tiba muncul notifikasi dari Amga di grup. “Je, stasiun Tawang! Bukan Poncol!”. Kening berkerut, apa lagi ini? Bukannya memang KA Brantas berangkat dari Tawang? Masih dengan kening berkerut, saya akhirnya bertemu Miya, Dev, Amga dan Echie. Sambil tertawa mereka bercerita tentang kejeniusan Miya, yang berboncengan dengan Dev, yang dengan yakin mengarahkan motornya ke Stasiun Poncol yang berjarak sekitar 10 menit dari Stasiun Tawang….karena pede, KA Brantas berangkat dari Stasiun Poncol. Oke….keteledoran yang ditanggapi dengan santai.. a good sign.

Kopi mana, mas?  

Dev sudah ke alam mimpi tapi saya dan Miya terlalu excited dengan perjalanan kami. Obrolan dan candaan serasa belum dapat mengusir dinginnya udara gerbong. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memesan segelas kopi ke pegawai reska. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali melewati bangku kami untuk mengantar pesanan penumpang lain. Tapi entah kenapa, sepertinya karena terpesona oleh aura Miya, ia nampak kikuk ketika saya panggil. Ah…kopi yang saya pesan habis. Si mas Reska, sebut saja namanya begitu, menjanjikan akan segera kembali dengan membawakan pesanan. Benar saja, sekitar 10 menit kemudian, ia membawa segelas kopi di nampan. Setelah menerima pembayaran, ia tak lupa mengucap terima kasih, lalu berlalu… saya sempat bengong, sebelum akhirnya, memanggilnya kembali “Mas, kopiku mana?” sambil menahan tawa. Sempat terlihat semburat merah di pipinya ketika ia kembali dan mengangsurkan gelas kopi, “Maaf ya mbak..”. Sontak kami tertawa. Dalam benak saya hanya terlintas, astagaa..ada apa lagi ini??

Welcome to Tan Son Nhat International Airport.

Saya sadar ini bukan mimpi ketika Miya memukul pundak saya, lalu Dev, dan terakhir Amga muncul.  Ya, saya sudah di Vietnam. Dua hal konyol tadi cukup membantu saya untuk lebih tenang. Tapi, jujur, benak saya masih dipenuhi berbagai macam kekhawatiran. Bagaimana jika ternyata rencana tidak berjalan mulus? Apa jadinya kalau perjalanan ini tidak sesuai dengan ekspektasi kami? Apakah sisa perjalanan kami akan menyenangkan? Ternyata kekhawatiran saya memang beralasan. (to be continued)

Comments

  1. Pingback: #SetahunVietnam: Seni Menawar di Ben Thanh Market - dotdolan.com

  2. Pingback: Foto di Ponsel Terhapus: Coba Gunakan Aplikasi Ini

  3. Pingback: Kedai Kopi: dari buket creme blend lalu tersesat di Lost in Coffee

Leave your dotprints

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.