#SetahunVietnam: Sambutan Hangat Ho Chi Minh City

Teriakan berulang “Saigon! Saigon!” mengagetkan saya. Sekuat tenaga, saya berusaha membuka mata. Pukul 3.30 pagi. Sepanjang perjalanan masuk kota, Saigon, yang juga dikenal dengan Ho Chi Minh City, mulai bergeliat. Bayangan gedung bertingkat, bersanding dengan bangunan era 60-an, pun tampak lapak pedagang kaki lima. Lampu jalan masih menyala, ditambah warna warni lampu milik pedagang kaki lima yang mulai menata lapak dagangannya. Sekitar 15 menit kemudian, bis mulai melambatkan laju dan berhenti.

Sambil menunggu nyawa terkumpul, kami bersiap-siap menuju penginapan. Layaknya di pemberhentian bis, beberapa pengemudi taksi menawarkan untuk mengantar kami, tapi saya meyakinkan teman-teman untuk berjalan kaki, “Ayo jalan aja, menurut GPS cuma 15 menit. Lagipula ini sudah hampir pagi, pasti sudah mulai banyak orang beraktivitas”. Demi menghemat biaya, kami pun sepakat berjalan kaki.

Lima menit berjalan, di persimpangan pertama, saya berhenti, “Sebentar. GPS-ku kacau. Reroute melulu. Aku restart dulu”. Dev menawarkan bantuan, “Coba pakai HPku aja ya…. Kalau dari GPS sih ini harusnya ke kanan”. “Iya, sebentar, aku setting ulang GPS, biar nanti kalau kacau lagi sudah ada GPS cadangan”, timpal saya. Semenit kemudian, “Yuk! Lanjut.”

Setelah berbelok ke kanan, jalanan nampak lebih sepi dari jalan yang kami lalui. Hanya ada satu dua orang yang bersiap menata dagangan dan sesekali suara motor juga menemani perjalanan kami. Kami berjalan dua-dua. Miya dan Dev berada di depan, sedangkan saya dan Amga di belakang mereka.  Sambil memantau GPS, kami mengobrol tentang Nha Trang yang kami kunjungi sehari sebelumnya.

Kejutan!

“WOY!!”. Tangan seorang pria sudah terjulur dan memegang tas selempang saya yang berisi paspor dan dokumen perjalanan. Teriakan saya membuat nyali penjambret ciut. Diiringi tatapan beberapa pedagang, ia masih mencoba menarik tas sekali lagi sebelum kabur diiringi suara motor yang meraung. Gagal. Tas masih dalam penguasaan saya. Saya hanya diam. Keringat dingin mulai keluar. Dev, Amga dan Miya memastikan saya tidak terluka dan barang bawaan masing-masing juga aman.

Beberapa saat kami terdiam, lalu Amga mengajak berhenti di mini market terdekat dan membelikan air minum. Miya menyumbangkan buku catatan dan pulpen. Dev membacakan rute, dan saya…masih dengan gemetar…mencatat dan menggambar peta manual. Secepat mungkin kami menyusun plan D. Plan Dadakan untuk segera sampai di penginapan.

Saat itu, saya benar-benar merasakan menjadi bagian dari sepasukan tentara tanpa persenjataan, berjalan di belantara kota Ho Chi Minh, buta arah dan diiringi lagu Paint It Black dari The Rolling Stones, lagu serial TV era 90-an bertema Perang Vietnam. Sesaat sebelum memasuki penginapan, masih sempat terdengar celotehan, “Wah kalau tadi tasnya beneran dibawa jambret, paspornya Je ikut ilang. Asikkk..liburannya tambah lama, tapi di kantor polisi lanjut ke kedutaan.”

Peka saat ada yang butuh bantuan, tidak menimpakan kesalahan ke orang lain, kemudian bisa kembali bercanda setelah ancaman jambret berlalu adalah pelajaran kedua di Vietnam. Sambutan hangat di pagi buta seakan mengingatkan saya untuk selalu waspada…Ya, jujur, saya takut. Tapi, Ho Chi Minh City terlalu menggoda untuk dilewatkan hanya dengan tidur-tiduran di penginapan.

(to be continued)

Comments

    1. Post
      Author
      1. yudinug

        Yupp. Selesai baca bukunya Mary sasmiro tetiba pengen berkunjung kesini. Terus sekalian nyasar ke zat kimia lainnya

        1. Post
          Author
  1. Pingback: #SetahunVietnam: Kereta, Kopi, Kita - dotdolan.com

  2. Pingback: #SetahunVietnam: Seni Menawar di Ben Thanh Market - dotdolan.com

Leave your dotprints