Pahami tiga istilah ini sebelum booking tiket: Nonstop, direct, dan connecting flight

Ketiga istilah penerbangan ini nampak sederhana: nonstop flight, direct flight, dan connecting flight. Untuk penerbangan domestik, beli tiket untuk penerbangan apapun sepertinya tidak akan menimbulkan kebingungan, yang pasti sampai tujuan dengan selamat.

Lain halnya jika kita merencanakan beli tiket untuk penerbangan internasional. Jenis penerbangan satu dan lainnya akan berpengaruh pada nasib bagasi dan pengurusan visa transit. Gak seru kan, itinerary yang sudah disusun rapi lalu berantakan karena kita tidak diperbolehkan melewati imigrasi hanya karena tidak punya visa transit?

Ditambah ketidakjelian melihat tanggal dan waktu keberangkatan, jenis penerbangan …. dan malu bertanya, maka muncul pepatah baru: Malu bertanya, uang hilang, bagasi melayang.

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan salah satu teman di salah satu grup pelancong yang tersohor. Dalam grup itu, banyak sekali pertanyaan tentang visa, bagasi, alur imigrasi, dll yang sebenarnya bukan hal yang rumit, asalkan kita jeli memilih dan membaca tiket yang dimiliki.

Non-stop flight

Menurut beberapa referensi, penerbangan nonstop adalah penerbangan langsung dari satu bandara ke bandara tujuan, tanpa henti, tanpa transit, tanpa ganti pesawat. Tanpa adanya transit di suatu negara penumpang penerbangan nonstop internasional tentu saja tidak perlu khawatir dengan visa transit juga dengan bagasi. Pastikan visa yang diurus sudah sesuai dengan negara tujuan. Bagasi pun sudah pasti terbawa sampai bandara tujuan, kecuali memang sedang apes.

Kelebihan penerbangan nonstop adalah durasi penerbangan yang singkat. Sayangnya, penerbangan ini kurang cocok bagi traveler berdompet tipis seperti saya, karena harganya yang relatif mahal. Eh, tapi kalau beruntung, bisa lho dapat harga (lebih) murah dengan berburu promo atau tukar poin.

Direct flight

Direct flight diartikan sebagai penerbangan dari satu bandara ke bandara tujuan, menggunakan satu kode penerbangan (flight numbers), namun memiliki satu titik pemberhentian atau lebih. Kebanyakan penumpang direct flight tetap diam di dalam pesawat selama transit di bandara. Penerbangan SRG – LOP (Semarang – Lombok) sebagai contoh. Pesawat Garuda yang saya tumpangi menuju Lombok untuk berburu sate rembiga, transit selama 45 menit di bandara Juanda, Surabaya, untuk mengisi bahan bakar. Pada saat transit, penumpang tujuan SUB (Surabaya) akan turun, dan digantikan dengan penumpang jurusan SUB-LOP.

Ilustrasinya sebagai berikut:

Nah, bagaimana dengan penerbangan Internasional? Biasanya, penumpang direct flight  juga tidak perlu bingung memikirkan visa transit dan bagasi. Meskipun transit di bandara tertentu, namun penumpang direct flight akan diarahkan untuk menunggu di area tertentu sebelum melanjutkan perjalanan dengan pesawat berikut. Durasi transit yang singkat juga tidak memungkinkan penumpang untuk keluar area bandara, meskipun ada beberapa negara yang mensyaratkan pengurusan visa transit meskipun penumpang tidak keluar bandara. (https://www.gov.uk/transit-visa)

Lagi-lagi, baca referensi dan googling sebelum traveling akan sangat membantu. Jangan mentang-mentang sudah berpengalaman dunia traveling tanpa rencana lalu take it for granted… ah gampang lah, nanti juga ada teman di sana yang bantuin. Believe me, petugas imigrasi tidak bisa dirayu dengan apapun lho.

Connecting flight

Penerbangan ini yang jadi pilihan utama traveler penuh keterbatasan seperti saya. Terbatas isi dompet, waktu dan cuti.

Connecting flight memiliki kode penerbangan yang berbeda, dengan pesawat yang berbeda, dan berhenti di satu titik transit atau lebih.

Kelebihannya, tiket connecting flight terhitung paling murah dibandingkan nonstop flight atau direct flight (dalam keadaan normal) dan penumpang bisa memilih waktu yang sesuai dengan itinerary untuk memesan penerbangan lanjutan.

Perlu diperhatikan bahwa tiket connecting flight dapat dipesan secara bersamaan (sehingga memiliki kode booking yang sama) atau secara terpisah (otomatis, kode bookingnya juga berbeda). Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

Apakah penumpang harus mengurus visa transit?

Berdasarkan pengalaman saya beberapa tahun lalu, dan diperkuat dengan tulisan teman saya, selama connecting flight dibeli dalam satu kode booking yang sama, maka penumpang tidak perlu mengurus visa transit. Jika kode booking berbeda, tentu saja penumpang perlu mengurus visa transit. Namun perlu diingat, tiap negara memiliki kebijakan yang berbeda tentang visa transit. Ada baiknya cek dan ricek sebelum membeli tiket.

Urus bagasi gimana?

Lagi, apabila connecting flight memiliki kode booking yang sama, penumpang tidak perlu bingung memikirkan bagasi selama transit. Pertama kali saya berkesempatan ke luar negeri, saya sempat kebingungan dengan bagasi saya. Untungnya petugas bandara memberikan informasi bahwa bagasi tidak perlu diambil selama transit. Yey,  saya bisa menikmati waktu berkeliling di terminal 3, Dubai International Airport yang super keren. Nah, jika kode booking berbeda, otomatis penumpang harus mengurus bagasinya sendiri semasa transit. Jika waktu transitnya pendek, bisa jadi penumpang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati bandara.

Takut ketinggalan penerbangan lanjutan?

Satu lagi kelebihan connecting flight dengan kode booking sama yaitu penumpang dibebaskan dari tanggung jawab resiko ketinggalan pesawat lanjutan.  Maskapai (terutama maskapai yang sama atau dalam satu grup) biasanya sudah mempertimbangkan durasi transit untuk meminimalisir resiko ketinggalan penerbangan. Dalam kondisi terburuk pun, maskapai akan membantu penumpang untuk mendapatkan tempat dalam penerbangan yang lain.

Ternyata, beli tiket pesawat pun perlu teliti bukan? Selain memastikan tanggal dan waktu keberangkatan, ada baiknya memeriksa apakah penerbangan kita termasuk dalam penerbangan yang mana. Jika bepergian ke luar negeri, pemilihan penerbangan terkait pada banyak hal seperti visa transit dan kesempatan menikmati bandara transit.


Disclaimer :

This is not a paid post. I wrote based on my experience on Emirates (CGK – DME) and Garuda Indonesia (SRG – LOP)

Comments

Leave your dotprints