The Cats in the Museum : Tiga Aktivitas untuk Menghabiskan Weekend di Bangkok

Menyusun rencana perjalanan untuk menikmati Bangkok selama 3 hari 2 malam, ternyata….tidak mudah saudara-saudara. Bangkok menawarkan banyak hal. Terlalu banyak malah, mulai dari wisata sejarah, budaya, kuliner, sampai wisata cicip minuman di beberapa bar atau sekadar bercengkrama sambil menghabiskan malam di daerah Patpong dan Soi Cowboy. Ups.

Namun, sukses dengan itinerary Vietnam dan Melaka, rasa-rasanya tantangan AirAsiaGo terlalu sayang untuk dilewatkan, sambil diiringi doa: Semoga #AAGOMakeItReal ini benar-benar jadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membawa saya ke Bangkok.

Penerbangan dan Hotel

Untuk menuju Bangkok dari Jakarta, saya sengaja memilih penerbangan paling pagi dari airasiago.co.id pada hari Jumat. Saya pilih bepergian saat akhir minggu karena jatah cuti yang amat sangat terbatas. Lalu untuk kepulangan, saya pilih penerbangan terakhir hari Minggu menuju Jakarta. Intinya, jangan sampai pekerjaan mengganggu rencana jalan-jalan..atau sebaliknya.

Selanjutnya, memilih hotel. Saya terbiasa memilih hotel tematik, unik, bukan sekedar tempat untuk tidur. Pilihan saya, kamar pribadi di Suneta Hostel Khao San. Memang, ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan, tapi sebanding dengan kenyamanan tidur tanpa mendengar dengkuran keras dari orang tak dikenal setelah lelah menyusuri Bangkok.

Informasi yang termuat tentang Suneta Hostel di https://www.airasiago.co.id/en/Bangkok-Hotels-Suneta-Hostel-Khaosan.h5269279.Hotel-Information, cukup meyakinkan saya untuk mencoba kamar pribadi di sini. Booking penerbangan dan hotel tentu saja lebih mudah dan murah jika dilakukan lewat web airasiago.co.id.

Tinggal klik-klik pilih tanggal, sudah bisa booking penerbangan dan hotel … plus promo kalau sedang beruntung

Lanjutkan membaca “The Cats in the Museum : Tiga Aktivitas untuk Menghabiskan Weekend di Bangkok”

After reading these quotes, just get lost and then…blow your mind!

Kutipan, atau quotes, sering dijadikan pembenaran terhadap suatu hal. Misalnya nih, kebanyakan remaja ketagihan hal-hal yang mereka anggap menyenangkan (padahal bisa jadi dianggap sebagai perbuatan konyol) bisa saja mengatakan, “Lah, masa muda kan masa yang berapi-api. Boleh lah ngelakuin ini itu onoh”. Rings a bell? Yep, mereka mengutip kata kata Bang Haji…ter..la..lu~

Saya lebih sering ngerasain benernya suatu kutipan setelah mengalaminya sendiri. Satu kutipan yang benar-benar membuat saya nyletuk “bener juga ya..” adalah kutipan dari Dalai Lama yang saya jadikan tantangan sepanjang tahun 2016…dengan sedikit modifikasi. Lanjutkan membaca “After reading these quotes, just get lost and then…blow your mind!”

Tiga Ungkapan demi Perjalanan Mengesankan

Berkelanalah jauh-jauh, lihat dunia,
Pelajari hal-hal baru, begitulah kata para bijak.
Namun kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah
Sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh.

Seandainya saja kita mau melongok ke pojok-pojok terdekat dengan sepenuh hati,
Ke pekarangan bahkan kepada tembok-tembok sekeliling yang tak lagi tampak
Akan kita temukan kerinduan akan misteri agung sebagaimana yang akan kita temukan pada ujung-ujung dunia terjauh.

(Wall with painting, Prague 2005) – Desi Anwar

Perjalanan sebagai sebuah rangkaian yang tak putus. Dari satu tempat berpindah ke tempat lain, dari solo traveling menjadi jalan berombongan, meninggalkan cerita yang tak bosan diulang atau malah ingin segera dilupakan.

Pertama kali membaca tulisan Desi Anwar yang dijadikan tantangan #nhclnulis bulan ini, fokus saya langsung tertuju pada kalimat : “kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh”. Sesuatu yang sebetulnya dapat ditemui tanpa berkelana sampai ke ujung dunia.

Sesederhana itu kah? Sebagian mungkin akan menjawab: Ya. Namun, tidak bagi saya. Tiga hal berikut justru saya dapatkan ketika saya berada di tempat yang jauh dari rumah.   Lanjutkan membaca “Tiga Ungkapan demi Perjalanan Mengesankan”

Childhood. Rewind [2]

Do you still remember what I said as we entered the buildingWell, yeah. I mean, there was no clear signage of a museum at all. No big letters, no pictures, no guides. The only sign was a chimpanzee that greets the visitor. Yep, a toy chimpanzee that will directly bring you to your childhood

So?

Well, wait. Let me sip my cappuccino..

***

Childhood on display

This place, Museum Anak Kolong Tangga, is not a museum at all. If I may say, it is a time machine. Yes, a time machine.

Can you imagine..strolling along the aisle full of your childhood toys and those eyes are looking at you and lending their imaginary hands to bring you back to your childhood? It’s like…suddenly you are standing in the middle of your playground with Madonna’s song playing as the soundtrack…this used to be my playground~ as you realize that your playground is now a concrete jungle?

…and suddenly you remember all your childhood friends, you start wondering when you can meet them even you have them in your social media accounts? Lanjutkan membaca “Childhood. Rewind [2]”

Lima Cara Menikmati Semarang ala Penduduk Lokal

Semarang. Identik dengan Lawang Sewu, Kawasan Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah dan Sam Poo Kong. Jika ingin lebih, Bandeng Presto, Sate Kambing Bustaman atau Pasar Semawis bisa menjadi pilihan. Atau yang terkini, wisata alam Brown Canyon?

Setelah semua dikunjungi, lalu apa lagi? Cuma jalan-jalan ke mall, makan di gerai fast food, atau nongkrong di coffeeshop untuk mengisi waktu sambil nyantai dan ngadem?  That’s too mainstream, dude.

Well, kalau hanya mengekor, apalah arti berkunjung ke Semarang, Kas? Kurang greget, istilahnya. Nah, pertimbangkan lima ide berikut, dan frase “he’eh, ya”, ungkapan persetujuan ala Semarangan, pasti akan keluar dari mulut anda. Lanjutkan membaca “Lima Cara Menikmati Semarang ala Penduduk Lokal”