Lima Cara Menikmati Semarang ala Penduduk Lokal

Semarang. Identik dengan Lawang Sewu, Kawasan Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah dan Sam Poo Kong. Jika ingin lebih, Bandeng Presto, Sate Kambing Bustaman atau Pasar Semawis bisa menjadi pilihan. Atau yang terkini, wisata alam Brown Canyon?

Setelah semua dikunjungi, lalu apa lagi? Cuma jalan-jalan ke mall, makan di gerai fast food, atau nongkrong di coffeeshop untuk mengisi waktu sambil nyantai dan ngadem?  That’s too mainstream, dude.

Well, kalau hanya mengekor, apalah arti berkunjung ke Semarang, Kas? Kurang greget, istilahnya. Nah, pertimbangkan lima ide berikut, dan frase “he’eh, ya”, ungkapan persetujuan ala Semarangan, pasti akan keluar dari mulut anda.

Childhood. Rewind. [1]

Inside every adult there’s still a child that lingers – Guy Laliberte

The (private) tour guide said, “The next place we’re going to visit is the one and only museum that will bring you directly to your childhood”. I was just thinking.. what?? another museum?? I thought that my facial expressions and my negative comments on  our previous visits to several museums have already enough to explain how I don’t really like them. Unorganized, spooky, boring, lack of information, … you name it. “Hahaha…you will love this museum. For sure. Satisfaction guaranteed”. Dang! The guide even teased me more..

The museum itself is hosted in another building, yet there are no clear signage. I believe, without proper information about this place, the visitors will easily get lost or just wander around without any chance to enter the museum. The only visible sign is this doll and a small poster below it. Aha, Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga also known as Museum Kolong Tangga. Let’s see if there’s something that can impress me.

Aim and shoot….or ask permission!

Mengabadikan perjalanan adalah hal yang lumrah dilakukan, baik melalui bidikan kamera, deretan kalimat, atau hanya kepingan-kepingan kenangan yang menetap di kepala. Saya sendiri lebih memilih untuk mengenang melalui foto hasil kamera bawaan ponsel dengan alasan kemudahan dan kepraktisan. Selain itu, karena saya memang tidak punya kamera lain :D.

Sepulang dari (atau selama) rangkaian perjalanan, apa yang harus dilakukan dengan tumpukan foto yang mulai memenuhi galeri dan memori ponsel?

Be Selfi(e)sh under the Pine Trees

Magelang pagi ini. Kombinasi kasur, selimut, udara sejuk, dan aroma rumah selalu sukses menggagalkan rencana bangun pagi. Tapi, kali ini, mata dan badan dipaksa waspada sebelum waktunya. Cerewetnya keponakan yang ternyata lebih efektif dari alarm yang terpasang. “Mbaaaak, ayo, katanya mau ke hutan pinus!” *zzzzz, keponakan satu ini memang jago kalau urusan nagih janji*. Sehari sebelumnya, karena penat dengan banyaknya kegiatan, saya memang mengajak adik dan keponakan untuk mengunjungi lokasi wisata yang sedang banyak dibicarakan orang, Hutan Pinus di Kragilan, Pakis, Magelang. Tempat wisata kekinian, demikian istilahnya.

Setelah mandi dan sarapan, kami berenam bersiap. Berbekal hasil googling, kami sudah sepakat untuk mengambil rute Magelang – Tegalrejo – Pakis – Kragilan dan untuk berjaga-jaga, aplikasi penunjuk arah juga sudah menyimpan koordinat lokasi “Top Selfie Pinusan“. Dari Kota Magelang, lokasi ini cukup mudah dijangkau baik menggunakan motor atau mobil pribadi. Arahkan kendaraan ke Tegalrejo lalu naik sedikit ke arah Pakis, lalu ikuti jalan  ke arah Ketep. Sebenarnya, tanpa bantuan GPS pun, lokasi ini mudah ditemukan dengan bantuan papan penunjuk arah. Perjalanan terbilang lancar meskipun jalanan relatif sempit dan tidak rata, bahkan ada perbaikan jalan di beberapa titik. Namun, sebagai penikmat pemandangan, hijaunya perkebunan sayur dan megahnya Gunung Merbabu dapat menjadi pengalih perhatian. Tidak lupa harus tetap waspada karena ada beberapa titik rawan kecelakaan di jalur ini.

Sesal karena Sate Rembiga

Rembiga yang bikin penasaran!

Beberapa saat setelah mendarat di Lombok International Airport, satu hal yang menjadi ritual adalah check-in di sosmed. Bukan soal gegayaan, tapi sebagai penanda. Terbukti, beberapa kali fasilitas ini membantu saya mengingat detail perjalanan.
Tiba-tiba…

“Miss, di Lombok ya? Cobain sate Rembiga tuh. Aku yang gak doyan sate aja sampe ngabisin 25 tusuk”

“Mbak, jangan lupa nyicip sate Rembiga. Pokokmen nyicip”

Kedua pesan senada ini membuat kening saya berkerut. Sate? Potongan daging yang ditusuk kemudian dibakar di atas bara api kan? Lalu, apa yang membuat sate ini begitu spesial? ah, paling-paling cuma terkenal macam getuk Magelang.

“Waaaa, Mima lagi di Lombok. Kulineran Sate Rembiga doong..”

Wah, belum selesai saya berpikir, ada lagi racun tentang sate Rembiga yang masuk. Makin berkerutlah kening saya..