Rumasuar: Sebuah Perjalanan Menuju Pulang

Rumasuar menandai 20 tahun perjalanan Bentara Bumi mencari rumah melalui puisi. Bagi seorang Bumi, puisi bersifat personal, bukan semata milik penyair melainkan milik siapa saja yang ingin menulis puisi. Dari pemikiran sederhana ini, tercetuslah ide untuk Bumi dan beberapa kawan mendirikan Malam Puisi. Malam Puisi dihadirkan sebagai ruang bagi para pencinta puisi yang ingin membacakan puisi maupun menambahkannya dengan musikalisasi sehingga menghidupkan suasana pembacaan agar semakin hangat. Komunitas Malam Puisi berawal di Kota Bali dan dalam 3 tahun kemudian mampu menjangkau sekitar 40 kota di Indonesia.

Ilustrasi Rumasuar | Pic: Toko Budi

Malam Puisi atau disingkat MP, dimaksudkan sebagai tempat mengekspresikan diri tanpa penghakiman. Beberapa Kawan Bumi yang menjadi pegiat MP sangat merasa aman dan nyaman ketika membaca puisi milik mereka sendiri ataupun ketika mereka membacakan karya penulis lain. Malam Puisi tidak hanya sekedar menjadi ajang pembacaan puisi, tetapi menjadi tempat berbagi cerita dan kosa kata. Malam Puisi menaungi para pembaca untuk saling mengapresiasi setiap bentuk cerita yang berbeda. Itulah sebab, Bumi sebagai pendiri Malam Puisi merangkum komunitas ini dalam kata; hangat.

Writing Poetry for Healing

Ketika membagikan perjalanannya, Bumi menyampaikan, “I keep on believing, meskipun belum bisa dilihat, dirasa, I just keep on believing.” Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar Bumi untuk tetap menulis puisi sebagai healing tools. Ya, Bumi menggunakan puisi sebagai sarana untuk untuk melepas beban berdasarkan konsep 3R: Releasing – Reframing – Relaxing yang ia pelajari dalam beberapa tahun terakhir. Releasing dirasakan Bumi saat dia menuangkan perasaannya dalam puisi, kemudian saat menemukan sudut pandang lain dari karyanya, ini bentuk Reframing. Dan tentunya, pembacaan puisi adalah bentuk Relaxing baginya.

Terkait dengan hal ini, dalam kesempatan lain Bumi menambahkan: “Jika memang berniat menulis untuk healing, lakukan saja. Menulislah untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan, dan jika saatnya tiba, manfaat healing akan bisa dirasakan tanpa adanya intervensi dari siapapun”.

Satu hal yang pasti, rundown acara disusun dengan sangat baik dan rapi. Mood audience ikut dilibatkan saat Bumi dan kawan-kawannya bercerita, berpuisi, lalu sama-sama pecah dalam berbagai cara mengungkapkan apresiasi saat Bumi selesai membacakan salah satu karya legendarisnya–Tubuhku Bukan Neraka. Pesan dalam puisi ini sangat kuat. Pesan dari puisi yang berjudul Tubuhku Bukan Neraka ialah memaafkan dan mencintai diri sendiri. Bagi saya, ini pengalaman pertama saya mendengar puisi tersebut dibawakan secara langsung oleh penulisnya, dan sungguh saya merinding, tidak mampu berkata apa-apa selain bertepuk tangan.

Dari Puisi ke Lagu

Menjelang terbenamnya matahari, penayangan perdana klip lagu Tersesat yang dibawakan oleh Dialog Dini Hari menandai akhir pesta kecil peluncuran Rumasuar. Syair lagu Tersesat lahir dari puisi dengan judul yang sama, ditulis oleh Bumi di tahun 2011, di dalamnya memuat keresahan yang dirasakan penulis, yang baru tujuh tahun kemudian ia mendapatkan jawabannya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Bumi untuk mendapatkan rumah yang dicarinya dan ternyata ia tidak menemukannya di luar, tetapi ada di dalam diri sendiri–pesan yang menjadi tema utama Rumasuar.

Awalnya peluncuran Rumasuar diagendakan akan diselenggarakan di tempat terbuka, dengan panggung kecil dan beberapa bangku di antara pepohonan. Dengan gambaran akan ada penjaja makanan dan minuman ringan, perlengkapan tata suara yang nyaman di telinga dan pencahayaan temaram tepat menyala setelah klip video Tersesat selesai diputar. Pesta kecil nan hangat yang dihadiri kawan-kawan Bumi yang larut dalam obrolan ringan seusai acara. Namun di tengah pandemi dan dengan berbagai pertimbangan, perayaan ini berpindah ke sebuah ruang virtual.

Rumasuar from My Point of View

Persis seminggu setelah Rumasuar resmi diluncurkan, ingar-bingar perayaan kecilnya masih terngiang di telinga maupun kepala saya. Saya merasa beruntung dapat hadir dan menjadi saksi kehangatan dan dukungan yang diberikan kawan-kawan Bumi dalam melahirkan buku pertamanya. Tentu saja, setelah peluncuran, rasa penasaran makin menjadi-jadi untuk segera membaca cerita perjalanan dalam bentuk lain: puisi. Tentunya, saya harus bersabar sampai pesanan sampai dengan selamat. Jika tertarik pesan, silakan klik di sini.

1 tanggapan pada “Rumasuar: Sebuah Perjalanan Menuju Pulang”

Leave your dotprints

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.