#SetahunVietnam: Sambutan Hangat Ho Chi Minh City

Teriakan berulang “Saigon! Saigon!” mengagetkan saya. Sekuat tenaga, saya berusaha membuka mata. Pukul 3.30 pagi. Sepanjang perjalanan masuk kota, Saigon, yang juga dikenal dengan Ho Chi Minh City, mulai bergeliat. Bayangan gedung bertingkat, bersanding dengan bangunan era 60-an, pun tampak lapak pedagang kaki lima. Lampu jalan masih menyala, ditambah warna warni lampu milik pedagang kaki lima yang mulai menata lapak dagangannya. Sekitar 15 menit kemudian, bis mulai melambatkan laju dan berhenti.

Sambil menunggu nyawa terkumpul, kami bersiap-siap menuju penginapan. Layaknya di pemberhentian bis, beberapa pengemudi taksi menawarkan untuk mengantar kami, tapi saya meyakinkan teman-teman untuk berjalan kaki, “Ayo jalan aja, menurut GPS cuma 15 menit. Lagipula ini sudah hampir pagi, pasti sudah mulai banyak orang beraktivitas”. Demi menghemat biaya, kami pun sepakat berjalan kaki. Lanjutkan membaca “#SetahunVietnam: Sambutan Hangat Ho Chi Minh City”

#SetahunVietnam: Kereta, Kopi, Kita

The journey, not the destination matters… – T. S. Eliot

Bagi sebagian orang, melakukan perjalananan sendirian sama halnya dengan pergi berkawan sepi. Tidak ada kawan bertukar pikiran atau sekedar berkelakar di kala perjalanan terasa masih terlalu panjang. Sayangnya anggapan itu tidak berlaku bagi saya. Melakukan perjalanan seorang diri terasa lebih menyenangkan, epriting dipenon yu, saya tidak perlu banyak berkompromi dan bergantung pada orang lain.

“Je, Vietnam yuk”, ajak Dev lewat WA. “Yuk. Sama siapa aja?” sambut saya yang segera dijawab Dev “Siapa aja yang mau hahaha..”. Ajak kanan-kiri, akhirnya Miya dan Amga bersedia gabung. Wah, Vietnam. Salah satu destinasi impian saya. Akhirnya ada jalan untuk mewujudkan mimpi. Namun saya tidak mau berharap banyak. Perjalanan saya sebelumnya bisa dianggap kurang menyenangkan karena berakhir dengan pertengkaran. Lanjutkan membaca “#SetahunVietnam: Kereta, Kopi, Kita”

After reading these quotes, just get lost and then…blow your mind!

Kutipan, atau quotes, sering dijadikan pembenaran terhadap suatu hal. Misalnya nih, kebanyakan remaja ketagihan hal-hal yang mereka anggap menyenangkan (padahal bisa jadi dianggap sebagai perbuatan konyol) bisa saja mengatakan, “Lah, masa muda kan masa yang berapi-api. Boleh lah ngelakuin ini itu onoh”. Rings a bell? Yep, mereka mengutip kata kata Bang Haji…ter..la..lu~

Saya lebih sering ngerasain benernya suatu kutipan setelah mengalaminya sendiri. Satu kutipan yang benar-benar membuat saya nyletuk “bener juga ya..” adalah kutipan dari Dalai Lama yang saya jadikan tantangan sepanjang tahun 2016…dengan sedikit modifikasi. Lanjutkan membaca “After reading these quotes, just get lost and then…blow your mind!”

Tiga Ungkapan demi Perjalanan Mengesankan

Berkelanalah jauh-jauh, lihat dunia,
Pelajari hal-hal baru, begitulah kata para bijak.
Namun kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah
Sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh.

Seandainya saja kita mau melongok ke pojok-pojok terdekat dengan sepenuh hati,
Ke pekarangan bahkan kepada tembok-tembok sekeliling yang tak lagi tampak
Akan kita temukan kerinduan akan misteri agung sebagaimana yang akan kita temukan pada ujung-ujung dunia terjauh.

(Wall with painting, Prague 2005) – Desi Anwar

Perjalanan sebagai sebuah rangkaian yang tak putus. Dari satu tempat berpindah ke tempat lain, dari solo traveling menjadi jalan berombongan, meninggalkan cerita yang tak bosan diulang atau malah ingin segera dilupakan.

Pertama kali membaca tulisan Desi Anwar yang dijadikan tantangan #nhclnulis bulan ini, fokus saya langsung tertuju pada kalimat : “kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh”. Sesuatu yang sebetulnya dapat ditemui tanpa berkelana sampai ke ujung dunia.

Sesederhana itu kah? Sebagian mungkin akan menjawab: Ya. Namun, tidak bagi saya. Tiga hal berikut justru saya dapatkan ketika saya berada di tempat yang jauh dari rumah.   Lanjutkan membaca “Tiga Ungkapan demi Perjalanan Mengesankan”

Childhood. Rewind [2]

Do you still remember what I said as we entered the buildingWell, yeah. I mean, there was no clear signage of a museum at all. No big letters, no pictures, no guides. The only sign was a chimpanzee that greets the visitor. Yep, a toy chimpanzee that will directly bring you to your childhood

So?

Well, wait. Let me sip my cappuccino..

***

Childhood on display

This place, Museum Anak Kolong Tangga, is not a museum at all. If I may say, it is a time machine. Yes, a time machine.

Can you imagine..strolling along the aisle full of your childhood toys and those eyes are looking at you and lending their imaginary hands to bring you back to your childhood? It’s like…suddenly you are standing in the middle of your playground with Madonna’s song playing as the soundtrack…this used to be my playground~ as you realize that your playground is now a concrete jungle?

…and suddenly you remember all your childhood friends, you start wondering when you can meet them even you have them in your social media accounts? Lanjutkan membaca “Childhood. Rewind [2]”