Tag Archives: Traveling

Childhood. Rewind. [1]

Inside every adult there’s still a child that lingers – Guy Laliberte

The (private) tour guide said, “The next place we’re going to visit is the one and only museum that will bring you directly to your childhood”. I was just thinking.. what?? another museum?? I thought that my facial expressions and my negative comments on  our previous visits to several museums have already enough to explain how I don’t really like them. Unorganized, spooky, boring, lack of information, … you name it. “Hahaha…you will love this museum. For sure. Satisfaction guaranteed”. Dang! The guide even teased me more..

The museum itself is hosted in another building, yet there are no clear signage. I believe, without proper information about this place, the visitors will easily get lost or just wander around without any chance to enter the museum. The only visible sign is this doll and a small poster below it. Aha, Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga also known as Museum Kolong Tangga. Let’s see if there’s something that can impress me.

Aim and shoot….or ask permission!

Mengabadikan perjalanan adalah hal yang lumrah dilakukan, baik melalui bidikan kamera, deretan kalimat, atau hanya kepingan-kepingan kenangan yang menetap di kepala. Saya sendiri lebih memilih untuk mengenang melalui foto hasil kamera bawaan ponsel dengan alasan kemudahan dan kepraktisan. Selain itu, karena saya memang tidak punya kamera lain :D.

Sepulang dari (atau selama) rangkaian perjalanan, apa yang harus dilakukan dengan tumpukan foto yang mulai memenuhi galeri dan memori ponsel?

Sesal karena Sate Rembiga

Rembiga yang bikin penasaran!

Beberapa saat setelah mendarat di Lombok International Airport, satu hal yang menjadi ritual adalah check-in di sosmed. Bukan soal gegayaan, tapi sebagai penanda. Terbukti, beberapa kali fasilitas ini membantu saya mengingat detail perjalanan.
Tiba-tiba…

“Miss, di Lombok ya? Cobain sate Rembiga tuh. Aku yang gak doyan sate aja sampe ngabisin 25 tusuk”

“Mbak, jangan lupa nyicip sate Rembiga. Pokokmen nyicip”

Kedua pesan senada ini membuat kening saya berkerut. Sate? Potongan daging yang ditusuk kemudian dibakar di atas bara api kan? Lalu, apa yang membuat sate ini begitu spesial? ah, paling-paling cuma terkenal macam getuk Magelang.

“Waaaa, Mima lagi di Lombok. Kulineran Sate Rembiga doong..”

Wah, belum selesai saya berpikir, ada lagi racun tentang sate Rembiga yang masuk. Makin berkerutlah kening saya..