Ketiga istilah penerbangan ini nampak sederhana: nonstop flight, direct flight, dan connecting flight. Untuk penerbangan domestik, beli tiket untuk penerbangan apapun sepertinya tidak akan menimbulkan kebingungan, yang pasti sampai tujuan dengan selamat.
Lain halnya jika kita merencanakan beli tiket untuk penerbangan internasional. Jenis penerbangan satu dan lainnya akan berpengaruh pada nasib bagasi dan pengurusan visa transit. Gak seru kan, itinerary yang sudah disusun rapi lalu berantakan karena kita tidak diperbolehkan melewati imigrasi hanya karena tidak punya visa transit? (lebih…)
I was scrolling down my Twitter timeline when I suddenly stopped and reread the tweet. I was tickled by my curiosity as I read one of AirAsiaID’s tweets. Well, despite my disappointment for not being chosen as their winner for Bangkok, I still consider AirAsia as the one of the carriers to pursue my dream, to travel everywhere.
The tweet says that AirAsiaID lauched its Wi-Fi and in-flight entertainment on Friday. What? So, I did something illegal during my flight to KUL last September or I was just lucky to enjoy something new?
Menyusun rencana perjalanan untuk menikmati Bangkok selama 3 hari 2 malam, ternyata….tidak mudah saudara-saudara. Bangkok menawarkan banyak hal. Terlalu banyak malah, mulai dari wisata sejarah, budaya, kuliner, sampai wisata cicip minuman di beberapa bar atau sekadar bercengkrama sambil menghabiskan malam di daerah Patpong dan Soi Cowboy. Ups.
Namun, sukses dengan itinerary Vietnam dan Melaka, rasa-rasanya tantangan AirAsiaGo terlalu sayang untuk dilewatkan, sambil diiringi doa: Semoga #AAGOMakeItReal ini benar-benar jadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membawa saya ke Bangkok.
Penerbangan dan Hotel
Untuk menuju Bangkok dari Jakarta, saya sengaja memilih penerbangan paling pagi dari airasiago.co.id pada hari Jumat. Saya pilih bepergian saat akhir minggu karena jatah cuti yang amat sangat terbatas. Lalu untuk kepulangan, saya pilih penerbangan terakhir hari Minggu menuju Jakarta. Intinya, jangan sampai pekerjaan mengganggu rencana jalan-jalan..atau sebaliknya.
Selanjutnya, memilih hotel. Saya terbiasa memilih hotel tematik, unik, bukan sekedar tempat untuk tidur. Pilihan saya, kamar pribadi di Suneta Hostel Khao San. Memang, ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan, tapi sebanding dengan kenyamanan tidur tanpa mendengar dengkuran keras dari orang tak dikenal setelah lelah menyusuri Bangkok.
Masih maksa minta oleh-oleh? Sumber: travelingyuk.com
Perjalanan yang diwarnai dengan drama kopi dan drama copet belum berakhir. Ben Thanh Market, pasar di tengah kota Ho Chi Minh, menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Tadinya, kami hanya penasaran dan ingin melihat langsung pasar tradisional ala Vietnam dan tidak berniat membeli oleh-oleh, tapi printilan khas Vietnam ternyata terlalu menggoda untuk dilewatkan.
Ben Thanh Market mudah dikenali, bahkan bagi orang asing yang pertama kali ke Ho Chi Minh. Selain memiliki bangunan yang khas, berbentuk persegi, dan dikelilingi oleh trotoar, tulisan Ben Thanh mudah terbaca dari kejauhan.
Bagian dalamnya pun sangat bersahabat bagi pengunjung. Setiap los pasar menjajakan dagangan yang sama, dan lorong-lorong yang memisahkan pun cukup lebar. Kami berpindah dari satu bagian ke bagian lain. Menelusuri lorong makanan hingga lorong pakaian dan sepatu, kembali lagi ke lorong makanan. Belanja suvenir titipan maupun suvenir bagi diri sendiri apakah membuat pengeluaran kami membengkak? Gak lah, karena setiap Dong Vietnam yang akan dibelanjakan di Ben Thanh sudah ada dalam budget. Lagipula, harus aja izin dari menteri keuangan dan persetujuan bersama untuk membelanjakan Dong yang kami punya.
Teriakan berulang “Saigon! Saigon!” mengagetkan saya. Sekuat tenaga, saya berusaha membuka mata. Pukul 3.30 pagi. Sepanjang perjalanan masuk kota, Saigon, yang juga dikenal dengan Ho Chi Minh City, mulai bergeliat. Bayangan gedung bertingkat, bersanding dengan bangunan era 60-an, pun tampak lapak pedagang kaki lima. Lampu jalan masih menyala, ditambah warna warni lampu milik pedagang kaki lima yang mulai menata lapak dagangannya. Sekitar 15 menit kemudian, bis mulai melambatkan laju dan berhenti.
Sambil menunggu nyawa terkumpul, kami bersiap-siap menuju penginapan. Layaknya di pemberhentian bis, beberapa pengemudi taksi menawarkan untuk mengantar kami, tapi saya meyakinkan teman-teman untuk berjalan kaki, “Ayo jalan aja, menurut GPS cuma 15 menit. Lagipula ini sudah hampir pagi, pasti sudah mulai banyak orang beraktivitas”. Demi menghemat biaya, kami pun sepakat berjalan kaki. (lebih…)
The journey, not the destination matters… – T. S. Eliot
Bagi sebagian orang, melakukan perjalananan sendirian sama halnya dengan pergi berkawan sepi. Tidak ada kawan bertukar pikiran atau sekedar berkelakar di kala perjalanan terasa masih terlalu panjang. Sayangnya anggapan itu tidak berlaku bagi saya. Melakukan perjalanan seorang diri terasa lebih menyenangkan, epriting dipenon yu, saya tidak perlu banyak berkompromi dan bergantung pada orang lain.
—
“Je, Vietnam yuk”, ajak Dev lewat WA. “Yuk. Sama siapa aja?” sambut saya yang segera dijawab Dev “Siapa aja yang mau hahaha..”. Ajak kanan-kiri, akhirnya Miya dan Amga bersedia gabung. Wah, Vietnam. Salah satu destinasi impian saya. Akhirnya ada jalan untuk mewujudkan mimpi. Namun saya tidak mau berharap banyak. Perjalanan saya sebelumnya bisa dianggap kurang menyenangkan karena berakhir dengan pertengkaran. (lebih…)