Sesal karena Sate Rembiga

Rembiga yang bikin penasaran!

Beberapa saat setelah mendarat di Lombok International Airport, satu hal yang menjadi ritual adalah check-in di sosmed. Bukan soal gegayaan, tapi sebagai penanda. Terbukti, beberapa kali fasilitas ini membantu saya mengingat detail perjalanan.
Tiba-tiba…

“Miss, di Lombok ya? Cobain sate Rembiga tuh. Aku yang gak doyan sate aja sampe ngabisin 25 tusuk”

“Mbak, jangan lupa nyicip sate Rembiga. Pokokmen nyicip”

Kedua pesan senada ini membuat kening saya berkerut. Sate? Potongan daging yang ditusuk kemudian dibakar di atas bara api kan? Lalu, apa yang membuat sate ini begitu spesial? ah, paling-paling cuma terkenal macam getuk Magelang.

“Waaaa, Mima lagi di Lombok. Kulineran Sate Rembiga doong..”

Wah, belum selesai saya berpikir, ada lagi racun tentang sate Rembiga yang masuk. Makin berkerutlah kening saya..

Kening berkerut berlanjut karena mabuk darat, karena saya dan Ardi memutuskan untuk memakai jasa taksi menuju pelabuhan Bangsal, lalu berlanjut ke Gili Trawangan. Iyap, mabuk darat..musuh terbesar saya.. Tapi obrolan Ardi dan pak Taufiq, sang sopir taksi, benar-benar membuat saya bertahan untuk melek. Banyak hal menarik yang diceritakan pak Taufiq, mulai dari budaya lokal, rekomendasi hotel, tempat wisata, sampai kuliner. Aha!

“Pak, kalo sate Rembiga, spesialnya apa sih? Ini kog temen-temen ngasih rekomendasi nyicip”

“Wah, mbak. Itu sate memang rame sekali. Dulu cuma jualan di pinggir jalan, sekarang dia sudah pindah, punya tempat sendiri. Nah, itu tuh kiosnya, sate Rembiga yang dibilang paling enak. Itu kata tamu-tamu yang saya antar ya, mbak.”

Jyaah, belum terjawab. Si bapak juga cuma jelasin sepotong sambil senyum-senyum. Pikir saya, baiklah, setelah dari Gili Trawangan, rasa penasaran akan sate Rembiga harus dituntaskan. Setuntas rinduku #eh

Perjalanan demi Menuntaskan Rasa Penasaran

Minggu siang, kami ketemu pak Taufiq di Pelabuhan Bangsal.

“Jadi kita ke sate Rembiga ini, mbak?”

Walau perut masih berasa penuh, spontan kami menjawab: “Jadi!” 

Sekitar satu jam perjalanan dari Pelabuhan Bangsal (..dan saya tertidur hampir di sepanjang perjalanan demi melawan mabuk darat), taksi pun berbelok di sebuah warung dengan papan bertuliskan “Sate Rembiga Ibu Sinnaseh – Yang Pertama/Yang Lama” lengkap dengan foto seorang ibu.

baliho
Penanda – Sate Rembiga yang Pertama

Kening saya kembali berkerenyit. Aroma sate mulai mengganggu indera penciuman, mengundang orkes perut untuk kompak berirama. Kami berdua memesan 20 tusuk sate Rembiga. Jumlah aman untuk sekadar mencicipi makanan baru. Melirik menu, ada sate Pusut. Karena penasaran, 5 tusuk sate Pusut turut dipesan.

Pesanan pun datang..

sate dan menu
Satenya, dik?

Sekilas, tak ada yang spesial. Sate Rembiga tak nampak beda dari sate kebanyakan, sate Pusut pun serupa dengan sate lilit bali. Namun, kembali, aroma sate menggoda kami untuk segera mengambil satu tusuk sate Rembiga… lalu sate Pusut .. kembali ke Rembiga.. lalu Pusut.. dan lagi … dan lagi … dan lagi.. hingga kami tersadar, hanya tinggal tusuknya saja yang tersisa.

The Moment of Truth

Nah, bagi saya, memang tak ada yang spesial dengan sate Pusut. Namun, ketika ingin mengambil lagi, hanya rasa sesal yang tersisa. Sate daging sapi dengan balutan bumbu khas yang mencecapkan rasa manis sedikit pedas, yang dikenal dengan sate Rembiga, hanyalah tinggal kenangan di piring. Bahkan tanpa banyak dikunyah pun, potongan daging sapi ini dapat dengan mudah masuk ke kerongkongan. Empuk. Tanpa tambahan bumbu kacang atau kecap seperti lazimnya sate ayam atau sate kambing, sate Rembiga mampu menciptakan sensasi “meledak” di mulut. Oke, saya berlebihan. Tapi, tunggu sampai sate ini mampir ke lidah..

Nah, cerita tidak berhenti di sini. Demi memenuhi permintaan teman yang sedang hamil (sebenarnya saya curiga dia ngidam sate ini), malam harinya kami kembali lagi..

“J, itu ibu yang di foto bukan?” Ardi setengah berbisik sambil menunjuk ibu yang sedang sibuk menghitung uang dari pembeli. “Wah, gak tau ya. Tanya to..” jawab saya. Ardi lalu mendekati sang ibu..dan benar, ia adalah ibu Sinnasih. Mendengar obrolan mereka, “Ar, aku mau dong difoto sama ibu, bukti kalau sudah sampai sini”. Ardi meminta kesediaan ibu Sinnasih untuk berfoto, dan di luar dugaan, ibu Sinnasih dengan senang hati melayani permintaan kami, yey!

ibu sinnasih
Ibu Sinnasih dan saya. Picture by Ardi

Dalam perjalanan kembali ke penginapan bahkan sampai sekembalinya saya ke Semarang, saya tidak habis pikir. Benar-benar penyesalan yang tak berguna. Sebagai pencinta sate, saya merasa gagal.

 

Comments

  1. Pingback: Sate Ponorogo, Hampir Serupa Tapi Tak Sama | NGOBROLIN JEJAK

  2. Pingback: After reading these quotes, just get lost and then…blow your mind! | Pejalan Semenjana

  3. Pingback: Sate Ponorogo, Hampir Serupa Tapi Tak Sama - NGOBROLIN JEJAK

  4. Pingback: Nonstop flight, direct flight, connecting flight : Serupa tapi tak sama

  5. Pingback: Bosan dengan Gethuk Magelang? Coba 3 Cemilan Ini — dotdolan.com

Leave your dotprints

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.